Pada pagi, oktober membawaku kembali pada ingatan-ingatan tentangmu. Pada pagi, sebuah lagu tidak sengaja mengalun, lagu favoritmu. Pada pagi, hadir degup rindu akan suara tawamu. Semua hal, semua sisi, aku ingin tau kondisimu. Beberapa hari lalu, aku mencarimu pada sebuah akun sosmed yang biasa kamu pakai. Tapi, nihil. kamu tidak ada di mana-mana. Baik di followersku, maupun di followers temanmu. Kamu seakan hilang ditelan bumi. Aku tidak, sungguh aku tidak ingin mengganggumu. Bahkan aku sendiri tidak tau darimana rasa penasaran ini bermula. Aku hanya melewati satu tempat pada suatu hari, dan langsung terbesit tentangmu. Pagi ini aku menyapa, lewat angin yang berembus lembut melewati celah jendela kamarku. Kau tau, bahkan sampai sekarang aku masih ingin mendapat notif darimu. Tapi aku tidak berharap, sungguh. Pernahkah kita di keadaan dan posisi yang sama? Sepertiku yang diam-diam melihat akun sosial mediamu, karena terlalu takut mengirim pesan? Sepertiku yang mempos...
MaasyaAllah, aku tidak berhenti memuji lantunan ayat quran yang dibacakan imam tarawih malam ini. Aku tidak tau siapa dia, tapi aku rasa sholat kali ini menjadi moment paling khusuk di Masjid kami. Aku hanya diam memandang sajadah diantara barisan ibu-ibu yang sibuk melihat dari sela-sela pintu kaca penghalang saf mencari tau siapa imam malam ini. Lantunannya merdu dan menenangkan. Setiap makhraj dan tajwid yang dibunyikan pas dan tepat. Hanya aku tidak tau dia memakai jenis lagu apa. Tuhan Maha Baik. Semua puji-pujian terarah untuk-Nya. Tidak ada yang mampu menghalangi seorang hamba dengan Penciptanya untuk saling merayu mesra. Iya, tidak ada yang mampu. Dunia seluas dan sesibuk ini tetap tidak abadi. Dan aku selalu memilih Tuhanku atas segala sesuatu yang menempatkanku pada banyak pilihan. Hanya Dia yang tidak pernah melepaskan pelukan pada bahu ringkihku saat aku benar-benar menjadi manusia yang paling hancur. Allah Maha Segalanya. Terlepas dari berkali-kalinya aku menjauh...
Aku seperti kehabisan kata-kata jika mendengar tentang ‘Palestina’. Perlukah dipertanyakan lagi bagaimana kabar negeri Al-Aqsa itu? Jika pun iya, maka jawabannya adalah sama. Terlebih pada ramadhan kali ini. Bagaimana dengan makan sahur dan berbuka? Sedangkan pasokan pangan mereka semakin menipis, tragis. Seperti raga yang berjalan tanpa ruh. Hanya terus memegang teguh ‘Laa ilaha illallah‘ tidak membuat mereka takut dari semua serangan yang datang bertubi-tubi, yang membunuh jiwa dan psikis manusia. Kehilangan keluarga, kehilangan anggota bagian tubuh, kehilangan tempat tinggal, harta benda, makanan, komunikasi, ketentraman, dan terpenjara di negeri sendiri. Air mata membanjiri tanah suci kedua itu. Seorang ibu memeluk anaknya yang terbalut kain putih, gadis kecil bermata zamrut yang kebingungan mencari orang tuanya, para tenaga medis yang tidak hentinya mengurus pasien meski sudah sakratul maut, dan semua yang menangis gila karena semuanya hancur seketika. Bumi Palestina sedan...
disini bisu,
ReplyDeletehanya ingin kamu
3S
ReplyDeletesendu
sunyi
serepett petpetttt
4l
DeleteLemah
Letih
Lesu
Love you
3g
DeleteGundah
Gelisah
Gegana