Aku Mencoba Melepaskan
Seiring berjalanannya waktu, keadaan seperti ini membuatku lelah, muak. Menanglah kamu, bendera putihku telah berkibar. Terimakasih telah menciptakan perang batin di kepalaku setiap hari.
Mungkin bagimu itu
soalan biasa, tapi jika saja kamu telaah, semua itu akan berdampak menjadi
trauma. Telah mati rasaku kepada siapapun selainmu. Tapi kamu sia-siakan aku
begitu saja. Kamu akan kembali padaku jika kau butuh teman cerita, begitu
selalu seolah-olah aku tak memiliki nilai diri.
Sering kali aku
intropeksi diri, cemas jika ini semua salahku. Berulang kali, setiap hari,
membunuhku. Aku telah menjadi wanita gila karenamu. Jika saja kemarin kamu
tidak datang dihidupku, mengiming-imingkan cinta, berjanji setia, dan segala ucapan
manismu seakan meyakinkanku bahwa kamu adalah pilihan yang tepat, mungkin aku
tidak akan menjadi seperti ini. Menyedihkan sekali aku.
Kemarin kamu
hanya penasaran dengan sikap acuhku. Namun saat aku telah melunak dan
membeberkan semua rahasiaku, dugaan terburukku adalah benar adanya. Kamu pergi
meninggalkanku, dengan begitu mudahnya. Memberi alasan-alasan tentangku yang
tidak ingin lagi kamu ganggu, basi! Bilang saja karena kamu telah bosan. Tidak
ada keseriusan dimatamu. Tidak ada keseriusan di bibirmu. Aku hanya menjadi
salah satu dari daftar rencanamu untuk kamu sakiti. Dan misimu telah berhasil.
Selamat!
Sekarang kamu bisa lega, atau sudah sedari dahulu karena kamu memang tidak
pernah merasakan aku dihatimu. Kamu tidak suka puisi-puisiku, kamu tidak suka
lukisan-lukisanku, kamu tidak suka dengan karya-karyaku, kamu tidak suka dengan
doa-doa yang kupanjatkan untukmu dan kamu tidak suka dengan semua cinta dariku.
Maka cukuplah sampai disini. Cukuplah aku menulis tentangmu. Akan kucoba
menutup buku tentangmu. Menutup semua akses jatuh cintaku yang berkali-kali itu
padamu. Karena yang kucintai pun tidak tau diri. Aku ingin sembuh.
Aku telah lama
menunggu, telah lama bersabar tapi kamu tak kunjung ada kabar untuk benar-benar
hanya mengarah padaku. Penatlah hati ini, aku ingin beristirahat. Air mata
sudah ku kemas dengan rapih, dan akan kupastikan tidak ada tangis lagi malam
ini.
Tenanglah, aku
melakukan semua ini karena telah merasa malu. Sekarang aku sudah peka bahwa
memang tidak ada cinta untukku darimu. Mau dipaksa sekuat apa, mau di doa se-khusyuk
apa, jika memang bukan aku tujuanmu, aku bisa apa?
Ini maumu,
bukan? Maka kuturuti. Jika suatu saat nanti kamu temukan dirimu dalam tulisanku
setelah tulisan ini, percayalah aku hanya sedikit rindu. Tolong jangan merasa
terganggu. Hiraukan saja semua tentangku.
Selamat tinggal.
Berbahagialah selalu.
25 Februari 24
Comments
Post a Comment