Dan Hanya Kepada Tuhanmu lah Kamu Berharap

Hawa dingin menyelimuti pagi. Jejak embun masih menempel di kaca jendela. Hari tampak lebih mendung dari biasanya. Secangkir teh hangat belum kusentuh sedikitpun. Kursor laptop kuabaikan berkedap-kedip sendirian. Sedang aku sibuk menutup mata seraya merasakan udara sejuk mencumbu kulit pipiku.

Mimpi buruk kemarin, aku tidak tau akan menjadi nyata atau hanya sekilas bunga tidur saja. Entah aku yang pengecut atau memang cara semesta memahamiku akan satu hal. Semua gelapku, semua burukku, semua cacatku, hanya aku yang bisa menerimanya.

Terkadang, kepada sepi aku sering bertanya, adakah seseorang yang berdoa untukku? Barangkali pada saat keramaian, pada saat bahagia, pada saat perayaan-perayaan kecil maupun besar, mengingatku sedikit saja? Seperti aku mendoakan dia, mendoakan mereka. Seperti aku mengingat dia, mengingat mereka. Baik dalam keadaan sibuk maupun senggang. Senang maupun nelangsa. Dimanapun itu, tidak tau tempat.

Lalu aku membuka mataku, menangkap cahaya buyar perlahan menjelas.

“Dan hanya kepada Tuhanmu lah kamu berharap“

-   Q.S. Al-Insyirah:8)

Biarlah, mau siapapun dia, siapapun mereka. Baik yang mendoakan atau mengingat, atau tidak sama sekali. Sejatinya manusia bukanlah tempat untuk berharap. Tidak ada yang menjamin bahwa mereka akan menepati janji. Termasuk diriku sendiri.


Semua hitamku, kotorku, dan hinaku, hanya Tuhanku yang mampu mencintaiku apa adanya. Mencintaiku sebagaimana Dia menciptakanku. Biarlah yang lain pergi, asalkan Tuhanku tidak. Karena sungguh, aku tak berdaya tanpa-Nya.


Kepada cinta duniaku,

hiduplah kamu dengan segala kebahagiaan

Semoga jiwamu terjaga dari segala kotornya

Kepada cinta sejatiku (Tuhanku),

rangkul lah aku yang lemah ini

supaya aku tidak mengemis untuk di doakan.

 

Lalu aku menghabiskan tehku yang mulai mendingin dan menutup laptopku setelah sajak-sajak ini kutulis. Langit masih tampak sama, tidak lebih gelap dan tidak pula semakin cerah. Bagi beberapa jiwa itu mendilemakan, namun bagi beberapa lagi percaya bahwa hanya Tuhan yang punya kuasa.

Aku jatuh cinta setiap pagi, lalu putus cinta di malam hari. Semudah senyum yang terganti tangis. Tapi aku tidak pernah berhenti untuk berdoa, sedetikpun.

Aku meninggalkan tempat duduk ku, membawa semua barang-barang diatas meja, meninggalkan kulachino disana. Selamat pagi, rinduku.

Comments

Popular posts from this blog

Pagiku dan Ingatan Tentangmu

Malam Kelima Ramadhan

Penduduk Surga yang Berjalan di Bumi