Maaf Jika Rinduku Mengusikmu
Duhai sayang. Selamat menyelami malam panjang di kota orang. Dengan secangkir kopi pahit dingin kesukaanmu, mungkin? Atau kamu melewatkan hari ini dengan tidur lebih cepat?
Sayangku, maaf jika banyak dari tulisanku yang barangkali mengusikmu. Sungguh, aku tidak bermaksud untuk itu. Jika benar yang demikian, maka janganlah kamu pernah mampir kesini. Lagi-lagi sungguh, aku tidak ingin membuatmu merasa kasihan kepada diri ini. Biarlah aku mengobati luka-luka yang kuciptakan sendirian.
Karena sekarang aku sudah cukup mandiri untuk mengusap air mataku sendiri. Aku bisa menjadi bahu untuk sandaran diriku sendiri. aku bisa memendam semua luka ku sendiri tanpa harus bercerita kepada siapapun. Jadi tenanglah jika sewaktu-waktu kamu membaca sajak-sajak ini, aku hanya perlu mengeluarkan emosi batinku.
Karena aku pernah dimarahi saat aku marah. Pernah dihakimi saat aku mengutarakan pendapat. Dan pernah ditinggalkan saat aku hanya butuh sedikit jeda. Tapi aku tidak pernah lagi mempermasalahkan itu.
Lagi pula, sayang. Siapa yang mau denganku? Siapa yang akan bertahan dengan perempuan segila ini? Siapa yang akan mempercayaiku? Aku tidak lain hanyalah seorang pembual. Satu-satunya yang mau memelukku adalah sajakku sendiri.
Aku terpenjara pada ruang yang kubuat sendiri. Aku pikir itu akan melindungiku, tapi ternyata dia yang paling pertama membunuhku. Aku kesepian dengan segala kehilangan, aku gagal dalam beberapa perencanaan, dan aku menangis melihat diri sendiri.
Tidak ada yang bersalah dalam hal ini, hal itu, atau hal manapun. Setiap orang punya hak untuk mencintai siapa saja. Kita tidak bisa menjadi seseorang yang egois. Meski mungkin memang akhirnya aku tidak mencapaimu, tidak tumbuh damai bersamamu, tapi aku senang pernah menemukanmu di bumi yang luas ini.
Dan lagi-lagi
sungguh, maaf jika rinduku mengusikmu
Maaf jika aku, mencintaimu.
Medan, 11 Februari 2024
Comments
Post a Comment