Mengapa Musim Sedihku Terasa Begitu Lama?

Hari ini aku belum sembuh. Ternyata perkiraanku kemarin salah.

Pagi ini, sinar mentari menerobos masuk melalui celah jendela kamarku. Dunia seakan baik-baik saja. Tapi aku menutup tirai putihnya. Bougenville bermekaran diluar sana, cantik sekali. Lalu ada kemorabi yang tercetak di rerumputan. 

Semua objek itu menembus retinaku. Sedang aku hanya duduk diatas kasur sambil memegangi secangkir air putih sebagai penyalur para kimia. Menahan iri.

Kesedihan dan kebahagiaan hanyalah perihal waktu, tapi mengapa musim sedihku terasa begitu lama?

Seperti tersesat di perempatan jalan. Tidak tau harus memilih kanan atau kiri, depan atau belakang. Terlebih, tidak ada yang menunjukkan arahku pulang. Aku harus mencari jalan sendiri. Paling tersakiti?

Lalu aku teringat anak-anak panti, para pengamen, dan manusia silver. Pada keadaan yang seperti ini aku merasa paling tersakiti. Lemah sekali. Nelangsa sekali. Padahal ada mereka-mereka yang jauh dibawahku. 

Tapi, salahkah aku merasa demikian?

Aku menyimpan perasaan-perasaan. Pikiran-pikiran. Dan semua pertanyaan-pertanyaan yang berkelibat dikepala.

Langit tidak menjamin pelangi akan muncul setelah redanya hujan. Laut tidak menjamin ombak untuk para peselancar. Dan pupuk tidak menjamin mawar akan tumbuh mekar. Tapi Tuhan punya 'Kun Fayakun'. Jadi untuk apa aku takut pada musim sedih? Karena bisa saja setelah kesedihan, kebahagiaan itu datang.

Lihat, sekarang langit berubah mendung. Cerah tadi tertutup gelap. Tidak ada yang abadi, bukan?

Mungkin saja setelah ini Tuhan akan bilang:
Sembuhlah kamu,
Damailah kamu,
Terkabul lah!

Medan, 10 Februari 2024

Comments

Popular posts from this blog

Pagiku dan Ingatan Tentangmu

Malam Kelima Ramadhan

Penduduk Surga yang Berjalan di Bumi