Percakapan Yang Tak Sampai

Kalau saja aku bisa mengirimimu pesan, maka aku akan langsung menyampaikan rindu malam ini padamu. Tapi diri ini terjerat gengsi besar meski intuisinya selalu saja mengarah terhadapmu. Dilan benar, yang berat itu rindu. Tidak berwujud, namun mendilemakan. Sebenarnya aku bisa saja mengirimkan pesan padamu, tapi aku takut dengan ekspektasiku (chat terakhirku saja tidak kamu balas). Tenang, tidak perlu repot-repot untuk merasa kasihan, karena aku telah mengasihani diriku sendiri. dari delapan milyar penduduk bumi, mengapa selalu kamu yang menjadi orangnya?

Seharian aku menjadi orang dengan kegelisahan tidak menentu. keliling kota tidak jelas meski tau arah tujuan. Ada yang aku kesalkan, aku lupa mengambil gambar bunga terompet berwarna kuning cerah dan merah muda di jalan Hayam Wuruk tadi. Padahal itu sangat cantik sekali dan mirip seperti bunga sakura di negri Haru (kamu pasti sudah lupa dengan salah satu tokoh novel yang pernah kuceritakan padamu, sebab kamu memang tidak pernah mengingatku).


Aku bohong kalau bilang sedang sibuk. Kamu tau? Sesibuk apapun aku, tapi kalau kamu pengisi notif hp-ku akan selalu aku balas. Tidak percaya? Yasudah, terserahmu.

Ini yang menjadi sebab aku membenci malam. Kenapa mataku masih saja selalu terjaga dan pikiranku berkelana tentangmu. Kenapa rasa kantukku tidak cepat datang saja supaya aku bisa langsung tidur? Huft!

Yasudah, selamat tidur di kasur empukmu sambil memimpikannya. Semoga saja besok kamu login ke agamaku.

Mimpi Intan (eh, indah maksudnya. Jangan marah, aku hanya bercanda)

 

Medan, 8 Februari 2023




Comments

Popular posts from this blog

Pagiku dan Ingatan Tentangmu

Malam Kelima Ramadhan

Penduduk Surga yang Berjalan di Bumi