Ramaiku Adalah Sepiku
Aku tidak tau bagaimana perasaan ini seharusnya diutarakan. Tapi keadaanku sungguh sangat menyedihkan diantara jiwa-jiwa yang sedang berbagi cinta satu sama lain. Tawa-tawa mengalun tak kedengaran tertutup suara lagu tentang cinta. Topik obrolan yang begitu menarik untuk diperbincangkan. Candaan yang sebenarnya tidak lucu sama sekali. Semua itu akan sangat menyenangkan jika dibuat bersama orang yang kita cintai.
Aku mengecek ponselku, berharap ada namamu diantara notif lain yang tidak penting. Cuma notifmu yang paling bisa membuatku berdebar. Entah mengapa setiap melihat namamu disana rasanya aku seperti pertama kali jatuh cinta. Aku suka sekali nama itu, nama yang pernah dengan bangga kuceritakan pada orang terdekatku. Tapi sekarang, aku hanya bisa tersenyum saat mereka menanyakanmu.
Beberapa detik kemudian aku mengecek ponselku lagi, tapi notif darimu juga tak kunjung sampai. Sial, aku selalu merindukanmu. Aku menyimpan ponselku, menatap iri para insan yang sedang menabur cinta disini. Diantara lampu kelap kelip yang cantik seperti para bintang diangkasa, aku ingin membaginya kepadamu. Andai saja jika kita masih terhubung seperti dulu, maka aku akan memotret lampu-lampu itu dan mengirimnya padamu.
Perasaan seperti teriris, hendak menangis namun air mata tidak bisa lagi keluar. Kenapa? Kenapa kamu kembali jika untuk pergi lagi? Pada akhirnya aku memanglah bukan inginmu. Kamu hanya menaruhku pada tempat biasa seperti orang lain yang pernah masuk ke hidupmu. Kamu tidak pernah serius denganku. Apakah kamu pernah memikirkanku meski dalam bagian ingatan kecilmu? Tidak, nyatanya kamu tidak pernah memilihku.
Rasanya aku ingin marah, aku ingin membencimu, melupakanmu dan membuang semua ingatan tentang kita, tapi berulang-ulang kali kucoba, berulang-ulang kali aku gagal. Yang selalu menjadi pemenangnya adalah kamu dan semua tentangmu.
Keramaian ini hanya menjadi bisuku. Seperti manusia yang telah mati perasaannya, dan perasaanku telah habis di kamu.
Tapi lagi-lagi ingat, aku tidak pernah menyalahkanmu dalam hal apapun. Karena semua ujungnya adalah salahku sendiri yang menaruh harap besar pada manusia sepertimu.
Medan, 17 Februari 24
Comments
Post a Comment