Sandaran Hanyalah Badan Yang Telentang: Hati-hati Di Jalan, Sayang

Tuhan masih berbaik hati mengirimkan suhu panas pada tubuhku. Kata 'mereka', sakit itu penggugur dosa. Syukurlah jika itu terkabul karena catatan keburukanku pasti menumpuk di buku malaikat Atit. 

Macam-macam jenis pil terpaksa kutelan supaya sembuh, begitu kata dokter. Apa penyakit hanya bisa sembuh melalui obat-obatan? Tubuhku berarti akan awet karena terlalu banyak mengkonsumsi jenis kimia itu. "Tergantung keyakinanmu lagi".

Obat tidak selalu berwujud seperti pil atau sirop. Barangkali seseorang, mungkin? Orasi dikepalaku, lagi-lagi dia. Berisik sekali. Aku hanya ingin tenang. Seperti terakhir kali kamu menutup telfon seraya mengucapkan mantra tidur malam itu. Ada sebuah sabit yang tersenyum. Wanita gila. Lalu paginya aku terbangun dengan perasaan yang sangat menyenangkan sebelum energi negatif itu merasuki pikiran. Kamu memberhentikan percakapan.

Sekarang, sandaran hanyalah badan yang telentang. Tidak ada yang mau memberikan bahu untuk kepalaku merebah. Mandiri sekali.

Untungnya air mata sudah kebal malam ini. Dia cukup tau diri untuk berhenti terjun karena mataku sudah sembab sekali. Tapi hidungku susah bernapas, dan suaraku bukan seperti suara asliku. Terdengar, aneh

"Tapi Tuhanku Maha Kasih. Aku tidak dibiarkan sendirian". Ada tidaknya kamu, akan menjadi hal yang sama saja. Aku besok pasti sembuh.

Dengar, malam ini ada kembang api yang bersorakan. Kaum Tionghowa sedang merayakan Imlek. Haruskah aku mengucapkan 'Gong Xi Fa Cai?' He, aneh sekali. Kepada siapa juga harus kuujarkan?

Besok kamu jadi berangkat? Hati-hati dijalan, ya. Semoga penerbanganmu lancar sampai tujuan. Jangan hiraukan tulisan ini jika sewaktu-waktu kamu membacanya. Anggap saja ini hanya torehan tak berarti.

İyi geceler, aşkım

Medan, 9 Februari 2024

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pagiku dan Ingatan Tentangmu

Malam Kelima Ramadhan

Penduduk Surga yang Berjalan di Bumi