The Power of Woman: Perempuan Berdaya

Saya seorang perempuan, izinkan saya berbicara dalam tulisan ini.

Ada banyak tradisi dan pantangan yang melilit di tubuh seorang perempuan. Sumpah serapah dan akhir masa depan akan bahaya bila kami melanggarnya.

Perempuan, bila ia menempuh pendidikan tinggi maka ada saja yang mencoba menjengkal. Sebaliknya, bila ia hanya lulusan kelas rendah maka ada saja yang merendahkan.

Perempuan, makhluk rumit, katanya. Marah dan diamnya seorang perempuan dianggap ‘lebay‘. Tegas dan berwibawanya seorang perempuan dianggap melampaui batas. Vokalnya seorang perempuan sering dianggap suara radio rongsokan.

Kami, para perempuan. Segala bentuk fisik, etika, dan seluk beluk kami selalu menjadi pertimbangan. Disepelekan.

Dengarlah, ini suara perempuan. Kami adalah seni Tuhan yang paling indah. Peradaban dunia terus berjalan karena adanya sosok kami di sini. Kami diciptakan dengan sebaik-beik bentuk, fisik, dan seluk beluk. Tidak akan ada anak keturunan Adam tanpa Hawa. Meski Adam adalah ciptaan pertama-Nya.

Jadi berhentilah untuk menyakiti hati perempuan. Untuk meremeh dan merendahkan perempuan.


Dan dengarlah, wahai kamu sekalian perempuan. Saya berbicara disini sebagai sesama kaum. Jadilah kamu perempuan semestinya sebagaimana tujuan Tuhan menciptakan kamu. Jagalah marwahmu di tempat yang penuh kehinaan ini. Kamu tidak harus terikat pada adat kuno itu. Kamu juga bisa melawan demi masa depanmu. Dalam artian yang baik.

Duhai perempuan, kamu yang paling tau agamamu. Janganlah lepas dari Tuhan yang telah menciptakan-Mu. Sungguh, janganlah merendahkan dirimu sendiri. kamu yang paling tau mana yang baik dan buruk di mata agama, dunia, dan dirimu sendiri.

Kita, para perempuan. Jadilah berdaya. Jadilah cantik versi diri kita sendiri. tidak ada larangan untuk mendandani diri. Sekali lagi, dalam artian yang baik. Karena kita, adalah madrasah bagi anak-anak kita kelak.

Mari kita rayakan hari ini untuk terus belajar menjadi seorang ‘perempuan‘.

"Tidak perlu bermata coklat, biru, atau hijau. Tidak perlu berbulu mata lentik, tidak perlu berkulit putih, tidak perlu berhidung mancung, tidak perlu telapak tangan mulus, tidak perlu menutup luka-luka yang masih merah, tidak perlu sempurna. Cukuplah menjadi baik dan sederhana. Karena, apa yang mau dibawa perempuan kepada anak-anaknya kelak selain menjadi panutan yang shalihah?"

Tulisan ini saya persembahkan untuk:

  •  Ibu saya sendiri. Seorang perempuan tangguh dan paling berdaya dari semua perempuan di dunia
  • Saya sendiri. Seorang pembelajar yang hari ini terkena bentakan dosen dan tugasnya dirobek paksa, tapi dia tidak berhenti untuk bangkit setelah kecewa.
  • Saudara perempuan saya. Anak perempuan yang masih labil dengan jurusan sekolah dan masa depannya.
  • Sahabat dekat saya. Yang hari ini juga senasib dengan saya tapi dia tidak lari dari Tuhannya dan terus menggenggam erat tangan saya.
  • Nona silmi. Seorang perempuan yang tidak hentinya menjadi panutan saya untuk menjadi ‘perempuan berdaya’ dan impiannya seluas semesta.
  • Sopir angkot wanita yang pernah saya tumpangi saat saya hendak pergi mengajar.
  • Driver ojek online yang menitipkan anaknya dipanti asuhan demi mencari nafkah.
  • Seluruh kaum perempuan di dunia yang sampai saat ini masih kuat berdiri tegak meski bahu dan kakinya hampir patah.

 

Medan, 8 Maret 2024

Comments

  1. Terimakasih udah menemani saya susah senang mbak...
    Tidak selamanya badai akan singah. Bertahanlah!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimakasih juga karena kamu tidak meninggalkan saya saat saya berada pada keadaan paling buruk mba

      Delete
  2. sangkakah kamu bahwa ada seseorang yang diam' mencintaimu nona?

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pagiku dan Ingatan Tentangmu

Malam Kelima Ramadhan

Penduduk Surga yang Berjalan di Bumi